Tampilkan postingan dengan label Loves. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Loves. Tampilkan semua postingan

"What Is Love ?"

These answers below is the actual children's answer to the quosten "What is love ?"
i found it on twitter, and its really interesting to know whats childrens thinks about love and its funy at the same time.

  1.  "Love is when you go out to eat and give somebody most of your french fries without making them give you any of theirs" - Chrissy, age 6
  2. "Love is what makes you smile when youre tired" - Terri, age 4
  3. "Love is when my mommy makes coffee for my daddy and she takes a sip before giving it to him, to make sure the taste is OK" - Danny, age 7
  4. "Love is when you kiss all the time, the when you get tired of kissing, you still want to be together and you talk more. My Mommy and Daddy are like that. They look gross when they kiss" - Emily, age 8
  5. "Love is what's in the room with you at christmas if you stop opening present and listen" - Bobby, age 7
  6. "If you want to learn to love better, you should start with a friend who you hate" - Nikka, age 6
  7. "Love is when you tella guy you like his shirt, then he wears it everyday" - Noelle, age 7
  8. "Love is like a little old women and a little old man who are still friend even after they know each other so well" - Tommy, age 6
  9. "During my piano recital, i was on a stage and i was scared. I look at all the people watching me and saw my daddy waving and smiling. He was the only one doing that, i wasnt scared anymore" - Cindy, age 8
  10. "My mommy love me more than anybody. You dont see anyone else kissing me to sleep at night" - Clare, age 6
  11. "Love is when my mommy gives my daddy the best piece of chicken" - Elaine, age 5
  12. "Love is when mommy sees daddy smelly and sweaty and still says he is handsomer than Brad Pitt" - Chris, age 7
  13. "Love is when your puppy licks your face even after you leave him alone all day" - Marry Ann, age 4
  14. "I Know my older sister love me because she gives me all her old clothes and has to go out and buy a new ones" - Lauren, age 4
  15. When my grandmother got arthritis, she couldnt band over and paint her toenails anymore. So my grandfather does it for her all the time, even when his hands got arthritis too. Thats Love" - Rebecca, age 8
  16. "When you love somebody, your eyelashes go up and down and little star come out of you" - Karen, age 7
  17. "You really shouldnt say 'I Love You' unless you mean it. But if you mean it, you should say it alot. People forget" - Jessica, age 8
Additional comments from me
Emily~ you shouldnt said that hohoho
Bobby, i dont really get whats you mean, sorry
Noelle...youre a bit alay...wkwkw
Clare, my mommy also love me more than anyoneelse, she always comes to my room when i sleep to kill all the mosquitos that bite me.
Elaine.....just say youre jealous hehe
Chris....you mom must a pro at lying *ups
Lauren, you should ask your older sister to buy you a new ones too *__*
Rebecca send my best regard to your grandparents! theyre so sweet!!
Karen, i think youre watch a drama too much hhhh...
And Jessica....thats deep! hoho!
(Anyway, excuse my stupid grammer-__-)

        Lucu-lucu kan gimana pikiran anak kecil tentang cinta,anak kecil jaman sekarang itu emang beda yah.
Dulu jamannya saya seumuran mereka-mereka ini, saya mana kenal sama kata 'cinta' itu sendiri-__-. Sekarang baru SD aja maennya cinta-cintaan huhu, benar-benar generasi yang kasian.. you guys should enjoy your childhood bfore you regret it!


Pernah saya tanya sepupu saya yang masih kelas 1 SD;
"Kamu pacarnya siapa ?" dan dia nyebutin semua nama temen-temen akrabnya, cewek dan cowok-___-"


Clarified ? haha!

          Baru saja membaca balasan message FB dari teman jaman SMP. Setelah basa-basi nanyain kabar, ujung-ujungnya ditanyain "Udah punya do'i nggak di sana ?"
haduh. Pertanyaan itu lagi.
Sebenernya ini bukan sekali atau dua kali ditanyain macam itu, beberapa teman yang sudah lama nggak ketemu bakal nanyain "Sekarang pacarmu siapa ?" "Sekarang sama siapa ?" dan sejenisnya. Kalau lagi pulkam juga, dari temen-temen rumah sampe beberapa tante juga ikutan menanyakan pertanyaan senada.
Kalau dijawab "Belum tertarik sama yang begituan" mereka malah ketawa, kalau dijawab "Nggak punya" atau "Nggak pernah pacaran" mereka nggak percaya. Yo opo sih ?
fiuh....sometimes i just getting sick of it.
Lagian, whats so wrong about being single ? er

Single itu bukan penyakit atau bencana.
Kadang saya nggak ngerti sama orang yang baru single beberapa bulan aja kelimpungannya minta ampun, sampe minta dicomblangin sana-sini. Yeah....boleh-boleh aja sih, go a head. But its not me. Tapi, jangan mentang-mentang saya bilang nggak pernah pacaran, malah dibilang abnormal. Dont get me wrong, im a normal girl, im interesting in man, i-can-fallin-love-and-i've-done-it-so-long-ago!
Hanya saja belum tertarik hal semacam pacaran gitu.
Kenapa ?
Iya ya, kenapa ? saya juga sering bertanya "Kenapa ?"
Dulu saya pikir saya nggak mau pacaran karna takut sama orang tua, meski mereka sebenarnya nggak pernah bilang "boleh" atau "nggak boleh". Tapi sekarang saya pikir-pikir, karena memang saya belum tertarik saja. Belum ada yang sreg ? bisa jadi, belum bisa percaya ? mungkin.

hh. Apapun itu, stuff like that bukan sesuatu yang perlu saya pusingkan. Bukan sesuatu juga yang saya perlu dahulukan ketimbang yang lainnya. Banyak orang bilang mereka butuh pacar supaya bahagia, tapi...sampai sejauh ini saya sudah bahagia walaupun saya single, isn't it mean i dont need that kind of stuff yet ? just let it flow...water will find their own estuary #wkwk.

Im single and very happy :p

*sumpah postingan nggak penting macam apa ini ? kwkwk
** hari ini bener-bener belom tidur sama sekali dari kemarin pagi sampai sore ini. Insomnia kambuh lagi kayaknya.

No, Im not

"Seems like he love you.."
"Huh ? hhh....nggaklah"
"Ey....tapi keliatannya kok iya, yang lain juga bilang gitu kok"
"Yang lain ? Dia sendiri nggak bilang gitu kok"
"Tapi kan, dari sikapnya aja udah keliatan. He really take care of you,-"
"-lagian, kamu juga kayaknya nanggepin kok"
"Wait, you really thinking that he love me and so do i, dont you ?"
"Well...."
"Hahaha...dia itu bercanda, jadi aku juga nanggepinnya becanda. I need to have fun aswell"
"Becanda ?"
"Hey....Aku nggak pernah percaya, ngumbar rasa suka ke orang lain di depan umum itu bener-bener cinta"
"Hm...?"
"Well, mungkin sebagian orang percaya. But, Im not" 




Monodrama Pagi


Selamat pagi, Matahari 
Selamat pagi, Senin
Selamat pagi, April
Selamat pagi, Malang
Selamat pagi, Kamu.

Maaf saya hanya bisa menyapamu lewat surat maya ini, saya tidak yakin kamu akan benar-benar menemukan, meski kamu sempat menanyakan alamat blog ini. Haruskah saya memberitahu, jika nanti ke depannya kamu akan muncul sebagai objek yang akan saya tuliskan ? tidak kah itu terlalu tidak-bagus buat saya ?,

Saya tidak tau harus meminta maaf, atau harus menyesal, atau malah sebaiknya bersyukur. Saya sudah memikirkan ini bahkan dari sejak kamu memelankan langkah agar seirama dengan saya. Saya bukannya tidak tahu, hanya saja saya sangat berharap saya benar-benar tidak tahu. Meski jauh di dalam hati saya sangat ingin, tapi saya tidak bisa menolak ketakutan yang saya sendiri tidak tahu apa. 

Jadi mari biarkan saya meminta maaf terlebih dahulu. 
saya toh belum memutuskan tujuan, anggap saya saya masih asyik duduk di beranda rumah; menatap lalu lalang, langit gelap, lalu bertanya apakah akan hujan ? haruskan saya pergi ? - sementara kamu sedang menunggu di bangku taman tidak jauh dari sini; menatap keramaian, langit gelap, lalu bertanya apakah akan hujan ? haruskah saya pulang ?
dan ketika saya lebih memilih duduk diam menunggu hujan reda.

Lalu, biarkanlah saya mengatakan penyesalan ini.
Saya menyesal tidak lagi bisa duduk di sebelahmu, tidak lagi begitu mau membalas pesanmu, tidak lagi mau berjalan di sampingmu, tidak lagi seperti dulu. Kamu mungkin mengira saya pengecut, tapi saya benar-benar menyesal karena saya sepertinya memang pengecut. 
Sebentar, 
Saya juga menyesal kenapa waktu itu kita harus ditakdirkan duduk bersebelahan, menyesal karena membalas pesan-mu sedang yang lain tidak, menyesal karena harus berjalan sebelahmu hanya karena kita searah, menyesal karena saya seperti itu dulu. 

Maka, kali ini saya akan bersyukur, 
karena sepertinya kamu mengerti itu dan membiarkan saya mengambil jalan ini. Haruskah saya juga menuliskan 'sedikit kekecewaan' saya di sini ? haha! Tapi, seburuk apapun rasanya sekarang saya mau tidak mau harus bersyukur karena semuanya kembali berjalan seperti yang saya ingin, kan ? 




tapi, 
jika kamu benar-benar,
walau badan mu kuyup di guyur hujan lalu matahari mengeringkan-nya kembali, 
tidak kah harusnya kamu lebih sedikit bersabar menunggu, kan ?
lalu duduk bersebelahan; menatap langit yang bersemu disapa pelangi.

Karena kamu berbeda

       Tiga puluh menit berlalu, saya masih memperhatikanmu, kamu masih memperhatikan bukumu. Ini malam kamis, tiba-tiba saja kamu muncul di depan pintu dan bilang besok ada kuis lalu duduk di sofa dan mulai sibuk membaca buku setebal bata yang dari judulnya saja sudah bikin saya pusing. Saya tidak habis pikir, pesan 'saya kangen kamu' satu jam yang lalu kamu balas dengan repot-repot datang kemari. Kamu ini, romantis atau apa. 
        Empat puluh menit berlalu. Kopi di gelas saya sudah dingin tanpa sempat saya sentuh, karena saya terlalu sibuk memperhatikanmu. Kamu pasti tidak tau, saya sangat senang memperhatikan kamu yang sedang tekun membaca buku dari jarak sebegini; tidak terlalu jauh pun tidak terlalu dekat. Saya masih sering terheran-heran, kok bisa kamu punya bulu mata selentik itu ? atau alis serapi itu ? saya yang cewek saja tidak sebagus itu, kadang saya iri. Bulu mata saya lurus dan pendek, kata kamu itu tandanya saya orang yang cengeng. Harus saya akui, kamu memang benar. 
         Tiba-tiba telingamu memerah. Saya tertawa dalam hati, kamu pasti sadar kalau saya memperhatikanmu, huh ? tapi kamu masih pura-pura bertahan dengan ensiklopedia mu. Gemas, saya pun mengambil gelas kopi saya dan mengaduk-ngaduknya dengan telunjuk, menunggu reaksimu.
"Kecil....itu jorok" 
Tepat. Trik saya berhasil, kamu meraih gelas kopi saya dan mendelik ke arah saya. Saya tersenyum, lalu mengambil gelas kopi itu lagi, setelah menatap saya dengan tatapan yang kira-kira artinya 'jangan-ulangi-lagi' kamu kembali beralih ke bukumu. Saya menghela nafas, lalu menyeruput kopi saya. Akhirnya. 
Kecil. Itu nama panggilanmu buat saya, katamu karena tinggi saya tidak sampai 160 cm dan berat saya tidak sampai 50 kg. Saya sering protes kalau kamu panggil begitu, tapi saya malah sering rindu panggilan itu. 
"Makanya kamu makan yang banyak, 3 kali sehari tuh. Jangan takut gemuk deh, yang penting kamu sehat" kamu akan balas begitu kalau saya mulai protes dengan panggilan itu atau "Kamu nggak lagi diet kan ? awas kamu kalau diet, badan sudah kerempeng begitu mau diet apanya ?" itu kalau kamu liat porsi makan saya yang super dikit. Padahal porsi makan saya memang hanya segitu. Kamu ngomel persis seperti ibu saya saja. Dasar.
            Kamu dan saya itu memang berbeda; Kamu itu orangnya bersih, sementara saya seringkali jorok., kamu rapi dan saya acak-acakan, kamu suka film sains dan saya suka drama, kamu hanya ketawa sekedarnya sementara saya masih ngakak, kamu tidak suka kopi sedang saya sangat mencintainya, kamu sedikit bicara dan saya banyak omong, mungkin satu-satunya persamaan kita hanya sama-sama suka membaca, itu pun masih berbeda; kamu suka baca buku pelajaran sementara saya suka novel. Kamu dan saya itu seperti dua makhluk berbeda, kamu dari Venus dan saya dari Mars, lalu kita sama-sama terdampar di bumi lalu saling jatuh cinta. Dan di sinilah kita sekarang. 
        Satu jam berlalu. Saya mulai bosan memperhatikanmu. Iseng, saya mendorong-dorong bukumu agar kamu merasa terganggu dan mengalihkan perhatianmu pada saya. 
"kenapa ?" kamu bertanya, tapi matamu masih ke buku.
"liat aku deh, ini penting". kamu menutup bukumu, lalu memandang saya dengan kening berkerut.
Saya berdehem. "Kamu kenapa sih kok bisa suka sama aku ?"
keningmu semakin berkerut.
"Maksudku...kamu dan aku kan beda banget"
Kamu menghela nafas, lalu meletakkan bukumu di meja. 
"Memang kenapa kalau kita berbeda ? justru karena kamu beda saya menyukai kamu. Perbedaan itu ada agar kita bisa saling melengkapi. Walau kita sering beda pendapat, saya menikmati itu. Dari kamu saya belajar banyak hal yang tidak saya dapatkan di ensiklopedia mana pun, karena kamu saya melakukan banyak hal yang sebelumnya -mungkin- tidak akan saya lakukan"
Giliran saya yang mengerutkan kening. Ada jeda sebentar, dia seperti sedang mencari kata-kata.
"Singkatnya, kamu itu memberi warna baru di hidup saya yang hitam putih, kecil. Makanya saya suka sama kamu. Masih tidak mengerti ?" 
Sekonyong-konyong pipi saya jadi terasa panas, mungkin sudah memerah. Karena malu, saya mengambil ensiklopediamu dan menyuruhmu membacanya kembali. Sementara kamu kembali sibuk membaca, saya masih senyum-senyum sendiri. Hati saya jadi geli, sepertinya kupu-kupu baru saja keluar dari kepompongnya. 

Kamu juga menyeimbangkan hidup saya kok. Kamu tidak perlu sejalan atau pura-pura sejalan dengan saya agar kamu bisa buat saya jatuh hati, karena kamu apa adanya dan kamu berbeda itulah saya menyukaimu :)

randoms form google.

Malas atau takut ?

S: Sedang tidak ingin mampir ke hati orang kak, alamatnya sudah expired.
D: Eh, kenapa ? 
S: Lagi males aja kak...he

#Saya1 : Cih, boong banget kamu zhi. Kamu kan bukannya malas, kemarin-marin bilangnya pengen jatuh cinta. Bilang saja kamu takut, takut kalau-kalau kamu sudah terlanjur masuk ke hati orang...eh ternyata di dalam sana sudah ada orang lain, seperti dulu-dulu Kan ? 

#Saya2 : Saya bukannya takut bodoh!, saya hanya malas saja berlapang-lapang hati untuk berbagi hati sama orang lain (lagi). Kamu tidak tau saja, bagaimana membosankannya nyempil di sudut hati orang yang sudah penuh; terlupakan lalu membusuk. 

#Saya3 : Masa bodoh dengan kalian berdua!Saya mau tidur.

random from google


* Masih menertawai kenekatan saya dan mbk kiki hari ini. Ada banyak topeng yang saya tidak bisa lepas jika bersama yang lain. Dan..jantung saya masih berdetak cepat. 

** Comment box untuk postingan ini saya kunci. Hati saya sedang sensitip untuk membaca sebuah komentar. 

Tentang jatuh cinta


Kenapa harus ada kata 'jatuh' di dalam kalimat 'jatuh cinta' ?


Ada kalanya otak saya bakal bertanya-tanya seperti itu. Pertanyaan yang tidak penting sebenarnya, tapi saya sungguh penasaran. Saya tidak suka penasaran, andai saja saya tau siapa orang pertama yang menyebut kalimat 'jatuh cinta' itu, saya ingin sekali bertanya apa alasannya menggunakan nama itu. Itu pun kalau dia masih hidup, pun juga kalau dia punya alasan, karena siapa tau saja dia hanya asal sebut saja waktu itu. oke lupakan.

saya pernah membaca sebuah postingan seorang teman, katanya "untuk bisa mencintai, kita harus berani ‘jatuh’ lebih dulu". Ya, mungkin ada benarnya juga, atau memang benar begitu. Kalau merasa siap untuk jatuh cinta, juga harus siap pula dengan rasa sakit yang kadang / memang wajib mampir. Mungkin seperti ini perputarannya ; When you love you get hurt, when you get hurt you hate, when you hate you try to forget, then you start missing, and when you missing, you eventually want to fall in love again. Terus saja seperti itu, seperti tidak ada habisnya. 

Karena, ketika kamu mencinta seseorang. Kamu tidak akan langsung bisa menemukan yang tepat. Yaa..seperti memakan jamur, kita tidak tau itu jamur sungguhan atau tidak sampai kita merasakannya. Tapi ketika kita sadar, semuanya sudah terlambat. 
Untuk beberapa orang, ada kalanya mereka takut untuk jatuh cinta lagi, takut untuk merasakan sakit hati lagi. Tapi sayangnya, jatuh cinta itu bukan hal yang bisa kamu prediksikan seperti halnya hujan. Bukan hal yang bisa kamu atur, siapa...di mana atau kapan kamu akan jatuh cinta.
 "Falling in love is like jumping off really tall building, your brain tells you it is not a good idea, but you heart tells you, you can fly"
Jadi, untuk jatuh cinta satu hal pasti yang kita butuhkan. Ya...keberanian. Keberaian untuk 'jatuh' dan keberanian untuk mencoba bangkit kembali. 
Menulis postingan ini membuat saya berpikir, apa salahnya mempersiapkan diri selagi belum jatuh ? Meski saya ingin jatuh, tapi saya tidak mau terluka. Saya ingin jatuh yang aman, dengan sebuah pengaman seperti di flying fox lalu mendarat dengan aman di seberang sana dengan seorang yang menyambut saya. Meski begitu, sering kali juga kita tidak sempat mempersiapkan hal macam pengaman, tau-tau kita sudah tergeletak dibawah. Jatuh yang sakit. uuu..

Dan kesimpulannya, saya sedang ingin jatuh cinta. Tapi saya takut, untuk sakit lagi. 
Tau dimana membeli 'keberanian' ?

picture random from tumblr

Fallinlove



1 April 2012
suddenly, i want to fall in love.
No special reasons, i just wanna feel it. 
*sigh*


Pergi dan Kembali

"Karena kita sedang tidak hendak kemana-mana. Diam saja dan menikmati waktu, sampai diantara kita: saya atau kamu yang pergi, entah untuk sejenak atau selamanya. Dan diantara kita: saya atau kamu, yang akan menunggu entah untuk sejenak atau selamanya."

itu status facebook ! haha


itu yang saya rasakan 2 tahun ini...atau 3 tahun ini mungkin. Sejak kita bertemu di sini, sampai kita : saya dan kamu ( atau mungkin hanya saya ) sadar ada perasaan lebih dari sekedar yang kita katakan. Tapi kita juga sama-sama tidak ada yang ingin membawa perasaan yang entah apapun namanya itu ke mana-mana. Tidak ada ikatan, tidak ada janji. Hanya seperti ini, berputar hanya di sekitar kita saja. Tidak tumbuh tidak pula mati. Sesekali saya pergi, berjalan-jalan. Tapi tidak pernah berani terlalu jauh dari kamu, takut kamu marah takut kamu kecewa, dan saya tidak pernah tahu kenapa?. Padahal kamu tidak pernah marah dan tidak pernah menunggu saya untuk kembali. 

Seperti saya, kamu pun sesekali akan pergi. oh bukan, seingat saya seringkali. Sesekali untuk waktu yang sebentar dan sesekali untuk waktu yang lama. Dan sangat lama. Bedanya, kamu pergi sangat jauh dari saya. Tidak tahu kapan kamu akan kembali. Dan bedanya (lagi) walaupun kamu tidak pernah berjanji untuk kembali, saya tetap duduk di sini. Menunggu kamu kembali. Saya tidak tahu, apa ini kesetiaan, kepercayaan atau hanya sebuah kepasrahan. Bagaimanapun sakitnya, saya selalu bisa tersenyum begitu membayangkan bahwa kamu, di suatu tempat entah di mana. Sedang duduk : berbagi hujan, tawa, senyuman dan cinta. Jadi saya pikir, kenapa saya harus bersedih ?.

Pun kini, ketika kamu sudah kembali, saya masih tetap di sini. Tapi ada hal yang berubah selama kamu pergi, banyak hal yang tidak lagi bisa saya bagi selama kamu tidak ada. Perasaan itu masih sama, tidak luntur sesering apapun hujan menimpanya. Bedanya (sekali lagi) saya tidak akan menahanmu ketika kamu pergi lagi, dan mungkin tidak akan menunggumu lagi. Dan selama kita sekarang masih duduk di sini. saya tidak pernah tahu, siapa yang akan pergi lebih dulu dan menunggu lebih lama. Tapi apapun itu, saya rasa sekarang kita memang tidak akan pergi ke mana-mana, berdua. :)


* Masih kecewa atas kekalahan Indonesia tadi malam. Tapi, Indonesia tetap pemenang di hati saya :*


Aku yang akan mengingatmu

+ Apa kamu mencintaiku ?
- Tentu....aku sangat mencintaimu
+ Seberapa besar ?
- Aku tidak bisa menjabarkannya
+ Kamu pernah berkhayal untuk menikahiku ?
- Tidak, aku tidak berkhayal. Tapi aku sudah merencanakannya :)
+ Kamu ingin punya anak berapa dariku ?
- Sebanyak-banyaknya. Supaya nanti rumah kita jadi rame. Banyak anak banyak rezeki hehe
+ Kalau aku meninggal apa kamu akan menikah lagi ?
- Kenapa kamu bertanya seperti itu ?
+ Hanya ingin bertanya, jawab saja :)
- Mmm...kurasa tidak
+ Kenapa ?
- Karena aku mencintaimu
+ Lalu bagaimana dengan anak-anak kita ? mereka akan sangat membutuhkan ibu
- Itu pertanyaan yang sulit sayang,
+ Aku tidak keberatan jika kamu menikah lagi, demi anak-anak kita :)
- Oke, aku akan menikah lagi. Demi anak-anak kita
+ Setelah kamu menikah lagi, bagaimana dengan barang-barangku ? apa kamu akan membuangnya ?
- Tidak. Aku akan menyimpan dan merapikannya. Tidak akan ada yang akan aku rubah..
+ Bagaimana kalau istri barumu tidak suka itu ?
- Aku tidak perduli, jika dia tidak suka silahkan dia pergi..
+ Lalu bagaimana dengan anak-anak kita ?
- Sayang, berhentilah bertanya seperti itu. Kamu akan hidup bersamaku sampai kakek-nenek. Percaya saja itu.. aku mencintaimu :)
+ Dengar, aku tidak keberatan jika kamu membuang barang-barangku jika kelak istri barumu tidak menyukainya. Pun jika nanti kamu melupakanku aku akan baik-baik saja. Biar saja hanya aku yang mengingatmu. Aku juga mencintaimu :)


*saya merasa pernah membaca yang seperti ini, tapi entah di mana.

Sepotong rindu..

Hei....ini malam takbiran, kamu apa kabar ?


Sepotong hujan tadi sore mengingatkan saya akan kamu. Sudah berapa hari ya kita tidak saling contact ? satu minggu mungkin. Rasanya konyol sekali kita tidak saling contact hanya karena saya belum melaksanakan perintahmu, tapi its oke ini......lumayan seru. Tapi saya ingin sekali bercerita banyak hal, bertanya banyak hal, dan tau banyak hal. Saya ingin marah gara-gara kamu tidak puasa arafah hanya karena kamu nggak sempet sahur ( jangan kamu tanya saya tau dari mana/siapa ). Saya juga ingin bilang 'jangan lupa salim ya' seperti hari raya yang sudah-sudah. Tapi saya rasa, semuanya hanya akan saya sampaikan lewat angin saja, saya harap kamu mendengar. Kesimpulannya, saya-merindukan-mu. 

Saya rasa saya merindukanmu seperti saya merindukan Yupi -kamu tau ? di sekitar sini tidak ada yang jual yupi, payah sekali- hingga akhirnya saya melampiaskannya pada kopi ( satu gelas kopi kental yang terlalu manis di bandara dan satu saset kopi instan nescafe french vanilla)- Atau bisa jadi saya merindukanmu seperti halnya saya merindukan rujak, sehingga tidak bertemu rujak membuat saya sangat pusing. Bagi saya rujak super-pedes itu obat mujarab ngilangin pusing. Dan..rindu padamu saya lampiaskan dengan tenggelam dalam bacaan, beruntung sekali saya sempat menjejalkan salah satu novel di dalam ransel saya. 

Gilanya. Sepotong rindu itu muncul di setiap lembaran novel yang saya baca, berbentuk di gumpalan awan yang saya tatap, jatuh bersama tetesan-tetesan hujan tadi sore atau menyeruak bersama pendaran lampu jalan yang kini sedang saya tatap melalui jendela yang terbuka. Oke, sekarang kamu boleh berbesar kepala tuan. Tapi ingat, kali ini saya tidak mau kalah. Walaupun sepotong rindu itu menghantui, saya tidak mau jadi orang pertama yang melakukan gencatan senjata (lagi). Kita liat, siapa yang bertahan.


NB : Di sini malam takbirannya ramai sekali, di luar sana sedang ada festival takbiran. Tapi keinginan saya untuk nonton dikalahkan oleh keinginan saya untuk mengetik postingan ini-_-. Alhasil saya hanya duduk di depan kamar, buka jendela dan mengetik sambil menyaksikan kembang api. Inginnya ditemani secangkir kopi (lagi)

Selamat Hari Raya Idul Adha guys, minal aidzin walfaidzin ya ^^


Saya Butuh Waktu

Mungkin kalian berpikir saya membencinya...
jangankan kalian, saya pun berpikir demikian. Tapi sungguh, saya tidak membencinya karena saya pikir saya tidak punya alasan untuk membencinya. Bagaimana saya bisa membenci seseorang yang bahagia ? pun jika saya yang tersakiti saya tidak berhak untuk marah lantas jadi membencinya. lalu kalian bertanya 'kenapa kamu bersikap dingin padanya ?' jawabannya karena saya tidak tau, saya tidak tau bagaimana caranya bersikap di depan dia, saya tidak bisa bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa antara kami. 

Dan jujur, setiap saya ngeliat dia entah kenapa saya langsung badmood. Bukan karena dia, tapi karena perasaan-perasaan yang ditimbulkannya. Karena setiap saya liat dia, luka lama bahkan mungkin masih sampai sekarang itu seperti mengaga lagi. Semua perasaan sakit, iri, pengorbanan, air mata yang dulu saya rasakan muncul lagi. Oke, mungkin saya juga sedikit kesal padanya. Alasannya simple atau mungkin juga tidak jelas, saya kesal karena dia tidak menghargai apa yang sudah saya korbankan. Ketika saya mati-matian mengunci perasaan saya buat orang itu demi dia, supaya dia bahagia. Meski rasanya sakit sekali melihat kalian bersama-sama. Tapi kenapa dia dengan semudah itu menghianati apa yang dia punya, dan lalu membuangnya. yang pada akhirnya membebankan itu pada saya. Rasanya...memuakkan. Sangat. 

Dan saya yakin, dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang saya rasakan. Dia perempuan, saya perempuan, setidaknya saya tau bagaimana kita begitu berpura-pura saling menyapa dan melempar senyum. Dan itu selalu membuat saya merasa bersalah, sekalipun sudah tidak ada apa-apa -setidaknya itu yang saya tau- diantara dia dan orang itu. Tapi saya tau, diantara mereka masih ada rasa sayang itu. Saya bisa mengerti beberapa statusnya di salahh satu social network ditunjukan untuk orang itu. Hem...saya jadi berpikir, kalo mereka masih saling sayang, kenapa harus bubaran ya ?


Saya ingin ini cepat-cepat berlalu, saya rasa tidak bertemu dengan dia lagi lebih baik daripada bertemu dan berpura-pura bahwa sebelumnya tidak ada apa-apa. Tentunya saya tidak ingin terus seperti ini, saya ingin suatu hari nanti saat saya ketemu dia lagi, saya sudah melupakan segalanya minimal sudah tidak ada rasa sakit itu lagi. Saya butuh waktu, ya...itu yang saya butuhkan. Waktu. 



Is it mistake ?


Dulu ketika semuanya terlebih kamu menentang apa yang saya lakukan, saya bersikukuh untuk bertahan dan merasa benar atas semua yang saya lakukan. Tapi kini, kenapa semuanya terasa salah justru saat semua orang terutama kamu membenarkan ? dimana letak kesalahannya ? :'(

 

Egois

             Hujan sudah berlalu, menyisakan rintik-rintik kecil yang jatuh menimpa dedaunan. Kamu masih diam, sayapun demikian. Saya masih bungkam dengan segala pikiran saya. Kamu meneguk kopimu yang mungkin sudah dingin sedang saya mengencangkan sweeter merah saya. Dilema. Saya sudah teramat sering mendengar pernyataan itu keluar dari mulutmu. Tapi tidak dalam dunia nyata, hanya dalam angan dan mimpi saya. Lantas kenapa saya jadi bimbang ? bukankah seharusnya saya senang. Entahlah. Kamu kembali meneguk sisa kopi, dan saya membuang pandangan ke luar jendela. Pura-pura tertarik pada gadis kecil yang sedang berjalan dengan payung hijaunya. Kamu berdehem, seperti ingin membuka mulut tapi kemudian bungkam lagi. Saya gemas, lantas tersenyum simpul..
"Kak...saya memang mencintaimu dan kamu tau itu. Tapi kakak harus tau, dalam hal hati saya akan sangat egois. Saya tidak mau menyerahkan hati saya pada seseorang yang hatinya sendiri entah tersangkut di mana. Saya tidak rela dan tidak bisa membagi cinta yang saya miliki. Nyatakan kembali setelah hati kakak sepenuhnya sudah kembali"
Kembali aku tersenyum lalu mengeuk kopiku yang sudah benar-benar dingin. 

- Jempong, 3:18. sepulang sekolah dalam keadaan kacau.

Berjudi dengan hati

random from google
 Saat kau datang di hidupku lagi...
 Dengan membawa luka yang sama seperti luka yang dulu kau goreskan
 jika kau berharap aku akan menyembuhkannya
 kau salah..
 luka yang kau tinggalkan saja belum mengering

***

Ini seperti d'javu
semuanya seolah terulang kembali dari awal 
namun kali ini aku tau resikonya, tapi aku sudah tidak perduli
entahlah, mungkin aku sudah lelah untuk perduli pada hati siapapun
tak terkecuali hatiku sendiri

Dengarlah...
melepasnya adalah suatu kesenangan untukku
ayolah, aku bukan orang jahat yang senang melihatmu jatuh
sejujurnya aku sedih
tapi aku juga tidak akan munafik, 
jika di satu sisi entah di sisi mana, aku merasa senang...
atau mungkin tenang..
tenang, karena dekat denganmu bukan hal yang menakutkan lagi
dekat denganmu tidak membuat terbebani 3 hati lagi
setidaknya, sudah tidak ada hatinya yang harus aku jaga.

Kawan...
jika ini hanya permainan bagimu
jika ini sama halnya dengan games yang selalu kau mainkan 
untuk melupakan dan menenangkan hatimu
anggap saja aku partnermu
tenang saja...aku sudah tau resikonya
jadi saat nanti waktunya untuk game over
mungkin tidak akan ada yang tersakiti seperti halnya dulu 
ketika kita sama-sama tidak tau

Kita sama-sama dalam keputus asaan
kita sama-sama dalam kebohongan
kita sama-sama dalam kepura-puraan
mainkan saja permainan ini
anggap kita sedang duduk di meja judi
dengan hati masing-masing sebagai taruhannya..

Maaf aku belum bisa sebiasa dulu...

Dear someone....
Nggak terasa sudah hampir satu tahun sejak sms-mu itu
sms yang membuat kita dekat mungkin sampai saat ini
sms yang membuatku berharap pada hal-hal kosong
sms yang pada akhirnya membuatku sakit dan mengeluarkan air mata


Aku tidak pernah meminta untuk mencintaimu
begitupun aku tidak pernah meminta kamu untuk membalasnya
aku hanya membiarkan perasaan itu tetap hidup untuk diriku sendiri
biarlah perasaan sakit yang ditumbuklkannya menjadi rasa pahit untuk hiduku
kurasa itu akan membuat hidupku lebih berwarna

Adapun prihal kemungkinan aku masih mencintaimu
biarlah itu akan menjadi urusanku
aku tidak akan memaksa untuk mempertahankannya
aku juga tidak akan bersikeras untuk membuangnya
bagiku yang penting aku bisa 'mencintai' walaupun tidak 'dicintai'
MUNAFIK !

Aku menjauh karena aku tidak tau bagaimana cara untuk mengembalikan keadaan seperti dulu
sungguh aku lebih menyukai keadaan yang dulu
ketika aku hanya menganggapmu sebagai kakak dan sahabat
ketika aku bisa bertemu denganmu tanpa rasa canggung yang berlebihan
ketika melihatmu bukan suatu ketakutan yang aneh !

Aku juga tidak mau menambah masalah dihidupmu dengan masalah konyol seperti ini
aku tau masalahmu sudah cukup banyak untuk aku tambah lagi
jadi, maaf untuk ketidak biasaanku ini...

Aku mungkin belum bisa sebiasa dulu..
aku belum bisa bersikap biasa seperti halnya kamu yang sudah bisa melakukanya
kalaupun aku bisa biasa mungkin hanya di sms
kamu tidak akan pernah tau bagaimana ekspressiku sebenarnya dibalik sms hhh
aku belum bisa bicara banyak secara langsung sebanyak aku bicara di sms
jadi bisa kubilang semua smsku rekayasa !
tapi sungguh...apapun yang aku tulis di sms itu adalah sebuah kejujuran :)

Aku senang bisa sekuat ini
aku senang bisa melihatmu senang, walau terkadang aku mengutuknya
aku senang bisa membantumu walaupun terkadang aku menangis melakukannya
aku senang bisa mendorongmu kuat walaupun sebenarnya aku juga sama rapunya dengamu
aku senang.....

Hah...aku tidak tau harus menulis apalagi
biar kukutip sebuah kata dari salah satu novel yang pernah kubaca
"Adalah suatu kebanggaan bagi perempuan bisa tetap mencintai saat disakiti, dan memaafkan saat luka itu masih ada"

Sekali lagi maaf aku masih belum bisa sebiasa dulu...

FYI i love this pict, don't know why...