Hal-hal kecil #2

In the end of the day all i want is you sitting on our little house's porch, sipping a cup of coffee or tea i made you that day, with me next to you reading anything without even trying to attempt any conversation. You know just comfortable silence, whether its sunny or rainy...
And knowing that we're contentedly happy.

.AA

Kebohongan.




Apa yang kutulis terkadang hanya kebohongan belaka
yang kuharapkan menjadi nyata.  
atau sebaliknya. 
 

Waktu

Pernah tidak terpikir, waktu itu seperti apa ?
Maksudku, bentuk maupun rupanya seperti apa ?
Mungkinkah sepeti sebuah garis lurus yang punya awal dan pada akhirnya akan berhenti di sebuah ujung ? atau seperti sebuah lingkaran yang tak punya awal dan akhir ? atau mungkin saja waktu itu punya bentuk sama sekali...

Haruki Murakami dalam novelnya 1Q84 mengatakan
"Human see time as straight line, its like putting notches on a long straight stick. The notch here is the future, the one in this side is the past and the present this point right here. Do you understand ?" 

"But actually, time is not straight line, it doesnt have a shape. In all sense of the term, it doesnt have any form. But since we cant figure something without form in our minds, for the sake of convenience we understand it as straight line. At this point, humans are the only ones who can make that sort of conceptual subsitution"

Bukankah ini cukup lucu ?
Kita bahkan tidak yakin waktu itu seperti apa, tapi kita manusia seolah tunduk dan lemah dihadapannya.

#Pecahan11

"Izinkan aku meminjam matamu; agar aku bisa melihat diriku sendiri, dari sudut pandangmu" _ AA

So what ?!

Tambahan satu angka di dalam hidup ini
dan ini semua hanya perkara angka kawan.
and 
yeah! i'm 22!!!!

fetus me!!!

 

#Pecahan10

Cinta adalah interaksi antara kopi hangat yang kuseduh dan hujan deras yang mendinginkannya.
-AA

That night under the rain

Dia berjalan menuju arah yang berlawanan denganku
beberapa meter di seberang jalan di antara lalu lalang jalanan kota Bandung yang padat lancar, untuk sepersekian detik mata kami bertemu dan untuk sepersekian detik itu pula aku terkesiap.

Berjaket kulit dengan tas selempang yang disampir sedikit terlalu atas, laki-laki itu berjalan di bawah hujan yang sudah akan berkemas. Dan beberapa meter di seberangnya, aku menenteng buku dan sekantong belanjaan sambil berjinjit menghindari genangan-genangan kecil. Ada banyak hal yang bisa membuat kami kehilangan sepersekian detik itu, sepersekian detik bertukar pandang, but we did.

Laki-laki itu ? Entah siapa; bukan kenalanku, bukan juga orang yang pernah aku kenal. But the gaze we shared that night, between the dim light of Bandungs street lamp, under the usual rain that i loved was like an exchange moment; aku seperti membaca cepat, dan dalam hitungan detik yang terasa seperti menit, laki-laki itu seolah sudah menumpahkan cerita ke dalam mataku. Dan mungkin, begitu juga sebaliknya.

Have you ?
Pernahkah kamu dengan tidak sengaja bertukar pandang dengan orang asing, entah di mana; seperti halnya aku ketika di angkot, di jalan, di antara keramaian. Singkat saja, hanya beberapa detik tanpa kata. Tapi kamu seolah tahu, hari seperti apa yang sudah dilalui si pemilik mata; sedih, frustasi, takut, khawatir, senang, bahagia dan terkadang kamu akan menemuka kehampaan, kedua mata itu seolah kosong, lalu kamu tanpa sadar mulai menerka-nerka apa yang sedang berjalan di pikirannya.

Lalu, seperti malam ini laki-laki itu tidak juga mau keluar dari pikiranku.
Pernahkah ?.

_03:22 a.m
  Azizah.