Time to say goodbye


Tik...tik...
Gerimis kecil yang sedari siang menggantung akhirnya berubah menjadi hujan deras; mulai membuat irama sendu ketika membentur pepohonan, dan menciptakan genangan-genangan kecil di sepanjang jalan. Dingin.
Wanita itu,
pada akhirnya berhasil mengalihkan pandangannya dari segelas susu coklat di depannya. Sudah dingin. Masih utuh. Sebuah post it tertempel di gelasnya; "Diminum ya....Sekali saja...."
Ia menghela nafas berat. Lalu sibuk memperhatikan motor-motor yang mulai menepi untuk berteduh, payung berbagai warna yang lalu lalang, dan beberapa anak kecil yang menari di bawah hujan. Entah kenapa, semua itu kali ini benar-benar tidak menarik.
Tempat ini adalah cafe favoritnya. Meski kecil dan terpencil; terselip diantara toko kelentong, tapi kopinya benar-benar enak. Lebih daripada itu, tempat inilah yang mempertemukannya dengan pria itu beberapa tahun lalu ; pria dengan alis tebal yang selalu ia sukai, pria pekerja paruh waktu di cafe ini, pria yang membuat setiap kopi pesanannya, juga membuat susu coklat yang di depannya. Pria itu, sudah pergi puluhan menit yang lalu, mungkin beberapa menit sebelum ia sampai. 
Wanita itu kembali menghela nafas. 
Dia tidak pernah suka susu coklat. Ia suka kopi. Pria itu lah yang sangat menyukai susu coklat, katanya membuat pikirannya tenang. Dan seberapa sering pun pria itu mencoba membuatkannya segelas susu coklat, wanita itu selalu menolak mentah-mentah. Ia merindukan masa-masa itu.


Pada akhirnya, waktu seperti ini datang juga.
Meski semuanya berjalan begitu mulus, perasaan mereka berdua sudah lama kandas di hempas angin; hal semacam berdebar-debar sudah tidak pernah mereka rasakan. Hambar. Tapi baik wanita maupun pria itu tidak pernah ada yang berani memulai kata perpisahan. 
Pada akhirnya pria baik hati itulah yang mengatakannya pertama kali, dan entah dia harus senang atau sedih untuk itu. Pertemuan dalam diam mereka pun harus berakhir dalam diam pula. 

Wanita itu kembali membuang pandangannya ke luar, kali ini pandangannya kabur karena tetesan air hujan yang mulai merembas di kaca jendela. Ia begitu sedih karena tak sempat mengucapkan kata perpisahan miliknya, ia ingin memeluk pria itu untuk terakhir kalinya, meminta maaf dan berterima kasih untuk semuanya. 
Mungkin waktu memang tidak membiarkan mereka bertemu; karena jika hari ini wanita itu tepat waktu, maka air matalah yang pertama kali bereaksi dan mungkin ia tidak akan bisa mengatakan salam perpisahannya. 

Langit sudah mulai gelap.
Wanita itu menghela nafas berat untuk terakhir kalinya. Ia menggenggam susu coklat dingin di depannya; seteguk, dua teguk dan tandas. Ia menghambiskannya tanpa memejamkan mata. Untuk pria yang begitu baik hati itu, setidaknya inilah yang bisa wanita itu lakukan.
Dan ia hendak beranjak ketika menyadari bahwa pria itu juga meninggalkan sebuah tulisan di kaca jendela. Ia mendekatkan wajahnya, mencoba membaca tulisan yang sudah hampir hilang terutup air. Wanita itu pun menulis sesuatu di bawahnya, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan tempat itu. Dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi.

Maaf.
Selamat Tinggal. -R-

Selamat tinggal juga.
Dan terima kasih. -A-
 

1 komentar:

Blogger yang baik adalah blogger yang setelah membaca memberikan kommentar ^.^